Tari Payung

Tari Payung

Tari Payung – Keragaman suku yang ada di Indonesia membuat kebudayaan yang ada di Indonesia pun menjadi lebih beragam. Salah satunya yaitu tari-tarian. Setiap daerah tentu memiliki jenis tariannya sendiri dengan ciri khas tertentu.

Pasti anda sudah sering sekali mendengar Tari Gambyong dari Jawa Tengah, tari jaipong dari Jawa Barat dan lain sebagainya yang tak asing lagi bagi anda. Sama halnya dengan tari-tarian tersebut, tari payung juga menjadi salah satu tari daerah yang eksistensinya cukup terkenal di masyarakat.

Bahkan tidak hanya di daerahnya sendiri yaitu Minangkabau Sumatera Barat. Tarian ini juga terkenal di berbagai daerah bersamaan dengan tari piring. Tari yang menggunakan instrumen pelengkap berupa payung tersebut menggambarkan cinta dan juga kasih sayang.

Pada masa-masa awal tarian tersebut oleh siti agam yang berasal dari bukit tinggi. Tari payung adalah salah satu tarian yang memiliki filosofi atau makna yang bagus. Tarian ini ini berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat seperti namanya Tari payung menggunakan payung sebagai properti utama.

Biasanya tarian ini dibawakan oleh 3 sampai 4 orang penari dengan cara berpasangan (pria dan wanita). Tarian ini melambangkan pergaulan pada muda mudi. Payung yang menjadi properti menari ini merupakan lambang pelindung muda mudi tersebut dari hal yang tidak baik.

Saat ini tari payung dibawakan saat acara kebudayaan, pesta, pameran dan kegiatan lainnya. Apabila anda ingin mengetahui maka berikut penjelasan rincinya.

Sejarah Tari Payung

Sejarah
blogkulo.com

Tidak ada yang menyebutkan dengan pasti bagaimana kisah awal mula Tari payung ini namun ada sebuah catatan yang menyebutkan bahwa tarian ini adalah ritual di pesta pernikahan beberapa nagari di Sumatera Barat.

Dikarenakan gerakan dan makna dari tarian ini cukup bermanfaat maka kesenian tarian ini terus bertahan dan berkembang hingga sekarang. Sekitar tahun 1960 tari tradisional tersebut pernah sangat populer baik di masyarakat Minangkabau maupun masyarakat lainnya.

Bahkan tidak sedikit dari mereka yang beranggapan belum melihat tari khas Minangkabau jika belum melihat penampilan tari payung. Tari yang satu ini sering kali dipertunjukkan pada sebuah paket pertunjukan tari Minangkabau.

Baik dalam bentuk hiburan atau sebuah pertunjukan seni (performing art). Tarian tersebut juga sering dibawakan sebagai tarian pembuka acara pameran, pesta maupun lainnya. Sejarah yang dimiliki tari payung ini pun sangat berkaitan erat dengan seni drama pada masa penjajahan Belanda atau yang lebih dikenal dengan nama toonel.

Selain kesenian yang lahir karena pengaruh sekelompok Seniman yang berasal dari semenanjung Malaysia. Kesenian drama tersebut mempertunjukkan seni komedi dari bangsawan Melayu yang ada di Sumatera Barat.

Didalam sebuah pertunjukan toonel, biasanya juga dilengkapi dengan menggunakan kesenian lainnya berupa tari payung. Pada awalnya tari tersebut hanya digunakan sebagai selingan dari babak ke babak dalam sebuah pertunjukan drama toonel.

Kemudian sekitar tahun 1920-an lewat perkembangan drama itu sendiri tari payung juga turut mendapat sambutan hangat dari masyarakat bukit tinggi hal tersebut seiring dengan tari Minangkabau gaya Melayu.

Tari payung untuk pertama kalinya ditata dalam bentuk tari teater oleh Muhammad Rasjid Manggis (1904-1984) sekitar tahun 1920-an. Selanjutnya tarian tersebut juga ditata oleh siti agam yang juga satu angkatan dengan Rasjid Manggis di normal school Bukittinggi.

Lewat siti agam inilah tari payung kemudian ditata dengan menggunakan tema pergaulan para muda-mudi. Secara narasi tarian tersebut menceritakan tentang sepasang muda-mudi yang bertamasya ke sungai tanang (yaitu suatu pemandian yang berada di bukit tinggi).

Cerita yang diciptakan tersebut tentunya disesuaikan dengan gambaran kehidupan remaja sekolah yang tinggi dikota serta terlepas dari kungkungan adat yang ada. Nah ada yang menarik dari satu tari ini dimana semua pemerannya adalah perempuan dan peran laki-laki digantikan oleh perempuan termasuk juga para pemusik nya.

Adat dahulu yang dimiliki oleh suku tersebut melarang para perempuan berkarir di luar rumah gadang. Hal tersebutlah yang memprakarsai siti agam untuk membentuk organisasi perempuan pada tahun 1924 satu periode “Serikat kaum ibu Sumatera(SKIS)”, serta pemimpin penerbitan sebuah majalah.

Langkah siti agam ini adalah bentuk upaya mendorong derajat kaum hawa termasuk juga dalam bidang kesenian yakni dengan mengadakan sebuah pertunjukan toonel atau yang juga dikenal dengan nama bersandiwara.

Menurut penuturan dari Damir Idris yang merupakan mantan murid dari siti agam beliau menjelaskan bahwa gurunya tersebut ialah seorang wanita terhormat yang ada di Minangkabau dan pertama kalinya menari di atas pentas.

Siti agam sendiri juga menjadi orang pertama yang menata tari payung dan ikut serta menarikannya didalam sebuah bentuk pertunjukan toonel yang disutradarai dirinya sendiri. Nah mengingat kondisi agar yang ada di masyarakat kala itu semua kegiatan kesenian baik laki-laki ataupun perempuan dilakukan secara terpisah termasuk juga para penontonnya.

Perkembangan dari tari payung berikutnya dimotori oleh sariamin atau juga dikenal nama saliasih. Beliau juga merupakan pelajar di normal school yang mana lebih muda dari siti agam dan juga Rasjid Manggis.

Saliasih menyusun tari tradisional tersebut dengan menekankan perbedaan dalam hal penggarapannya selain hal tersebut semuanya masih sama. Diluar murid School tari tersebut juga ditata oleh para murid yang berada di ins kayutanam.

Beberapa orang yang ikut andil dalam tarian ini ialah Djarmias Sutan Bagindo dan sjotian naan. Nah oleh sjofiaan naan sendiri tari tersebut diberi gubahan warna gubahan tersebut berasal dari kaba atau cerita rakyat.

Gubahan warna ini sendiri lebih menekankan pada simbol-simbol identitas ke Minangkabauan meskipun dibatasi isi dan juga dimensi busana. Djarmias Sutan Bagindo juga sama-sama memiliki gubahan. Akan tetapi gubahan yang dilakukan oleh beliau masih mengikuti pola sebelumnya. Djarmias mengubah tarian berdasarkan dimensi tekstual ataupun aspek internal dari sebuah tarian. Akan tetapi dari ketiga gubahan tersebut, dari abad 20 hingga sekarang gubahan Sjofyani Yusuf menjadi salah satu karya yang paling populer.

Meski sudah mengalami perkembangan menurut para penarinya tersebut akan tetapi tari payung sendiri masih tetap menggunakan lagu babendi-babendi. Tarian tersebut menggambarkan kehidupan remaja anak sekolah yang ada dikota pada awal abad masa itu digambarkan oleh Encik Siti Agam.

 

Makna Dari Tari Payung

Seperti yang telah dijelaskan di atas Tari payung ini memiliki makna dan filosofi yang menarik. Secara umum makna dari tarian ini adalah kisah kasih sayang dan perlindungan dalam hubungan cinta. Lebih tepatnya kasih sayang suami kepada istri dalam membina kehidupan rumah tangga agar selalu berbahagia sentosa.

Filosofi dari tarian ini terlihat dari gerakan dan properti yang digunakan dalam tarian ini. Saat pementasan masing-masing pasangan penari mempergerakan gerak tari dan peragaan drama kisah cinta sampai ke pelaminan.

Semua gerakan tarian ini memiliki filosofi bahwa sepasang muda mudi yang sudah dewasa dan saling mencintai hendaknya segera menikah. Hal ini ditunjukkan untuk menghindari perilaku dan hal-hal buruk pada pasangan tersebut.

Selain itu tarian ini juga menjelaskan bagaimana perilaku seharusnya bagi pasangan dalam berkasih sayang. Perilaku seharusnya yang dimaksud adalah yang sesuai dengan norma agama serta norma adat.

Filosofi Properti Tari Payung

 

Filosofi dari Tari payung juga terlihat dari berbagai properti yang digunakan. Makna dari properti pada Tari payung tersebut yaitu :

  • Makna Payung

Payung dalam Tari ini dipakai oleh pihak penari laki-laki. Alasan mengapa payung digunakan oleh laki-laki adalah sebagai simbol pelindung bagi perempuan. Laki-laki merupakan pilar utama dari keluarga sehingga laki-laki harus melindungi keluarga nya.

Simbol itu tampak dari penari laki-laki yang memayungi kepala penari wanita.

  • Makna Selendang

Selendang ini digunakan oleh pihak penari wanita makna nya adalah perlambang ikatan suci dari pasangan. Selain itu selendang ini juga bermakna kesetiaan seorang wanita dan kesiapannya dalam membina rumah tangga bersama suami. Hal itu tampak dari selendang yang dikaitkan pihak penari wanita kepada pihak penari laki-laki.

  • Makna Lagu Pengiring

Tari payung menggunakan lagu pengiring berjudul “babendi-bendi ke sungai tanang”. Lagu ini mengisahkan tentang sepasang suami istri yang sedang berbulan madu ke sungai tanang. Lirik lagu “babendi-bendi ke sungai tanang” Ini dapat anda baca di Wikipedia.

 

Komponen Wajib Dalam Tari Payung

 

Ada beberapa komponen wajib dalam Tari payung. Komponen-komponen tersebut yaitu :

Gerakan Tari Payung

Seperti yang dijelaskan di awal tadi gerakan dari tarian ini merupakan pementasan kecil dari drama kisah cinta. Tidak seperti Tari tradisional lain yang memiliki gerakan khusus Tari ini cenderung bebas. Meskipun begitu penari tetap harus memperhatikan keserasian gerakan payung oleh penari pria dan gerak selendang oleh penari wanita.

Pengiring Tarian

Tari payung memiliki 2 elemen pengiring. Pengiring tersebut berupa tabuhan alat musik tradisional dan sebuah syair khusus. Tabuhan alat musik yang digunakan terdiri dari rebana, akordeon, gendang, dan gamelan khas Melayu.

Alat musik tersebut haruslah dimainkan sesuai ritme dari tarian. Adapun syair yang dibawakan dalam tarian ini adalah syair lagu “babendi-bendi ke sungai tanang”.

Setting Panggung

Setting panggung dari Tari payung tidak terlalu rumit. Tarian ini bisa dipentaskan di mana saja asalkan tempatnya lapang. Hal ini dikarenakan penari tarian berjumlah banyak dan harus diatur agar tidak berbenturan saat menari. Tarian ini sangat ramai sekali jika sedang dipentaskan selain karena banyaknya pemain juga sangat menarik untuk ditonton.

Busana Yang Dikenakan Penari

Dalam hampir semua Tari tradisional pasti memperhatikan busana dan riasan. Hal itu berlaku juga pada Tari payung. Untuk para penari wanita kostum yang digunakan adalah pakaian adat melayu sesuai adat Minang yang terdiri dari Baju kurung, atau kebaya, bawahan berupa kain songket dan hiasan kepala yaitu mahkota berwarna keemasan.

Sementara itu untuk penari pria kostum yang digunakan adalah baju lengan panjang, celana panjang yang satu warna, sarung songket dan kopiah melayu.

Properti Penari

Tidak lengkap rasanya menari payung tanpa selendang dan payung. Seperti yang telah dijelaskan diawal properti inilah yang menjadi sarana penyampaian makna filosofi dari tarian ini.

Kedua properti ini saat pertengahan sampai diakhir tarian akan saling bertemu dan melengkapi satu sama lain. Seperti halnya pada sepasang kekasih yang akhirnya dipertemukan dipelaminan untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama-sama.

Demikianlah penjelasan mengenai tarian asal Sumatera Barat ini yakni tarian payung yang berdefinisi dengan sepasang suami-istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang membutuhkan kesetiaan perlindungan satu sama lain.

Dengan berkembang nya zaman juga teknologi informasi, informasi tentang tarian ini juga menyebar luas. Saat ini Tari payung masih berkembang menjadi salah satu seni tari yang diminati masyarakat. Selain dibawakan oleh muda mudi tarian ini juga kadang dibawakan anak-anak di acara tertentu. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita.

Pengertian Seni Tari

Dik Dik
5 min read

Tari Kuda Lumping

Dik Dik
5 min read

Tari Reog

Dik Dik
6 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *